Kamis, 25 Oktober 2012

Profil UKM dan pembinaan UKM di Indonesia


Penting bagi kita untuk mengetahui profil UKM di Indonesia. Dari hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Management FE UI tahun 1987 dapat disimpulkan profil UKM di Indonesia sebagai berikut :
1. Hampir setengahnya dari perusahaan kecil atau UKM hanya mempergunakan kapasitas 60% atau kurang. Dan lebih dari setengah perusahaan kecil didirikan sebagai pengembangan dari usaha kecil-kecilan.
2. Masalah-masalah utama yang dihadapi UKM :
·         permodalan, kemudahan  usaha (lokasi, izin).
·         pemasaran, hubungan usaha.
·         pengadaan bahan/barang.         
3. Usaha menurun kerena : kurang modal,  kurang mampu memasarkan, kurang keterampilan
teknis dan administrasi.
4. Mengharapkan bantuan pemerintah berupa modal, pemasaran dan pengadaan barang.
5. 60 % menggunakan teknologi tradisional dan 70 % melakukan pemasaran langsung ke konsumen.
6. Untuk memperoleh bantuan perbankan, dipandang terlalu rumit dan dokumen-dokumen yang harus disiapkan.

Pembinaan UKM 
Ada sub kelompok UKM yang memiliki sifat entrepreneurship tetapi ada pula yang tidak menunjukkan sifat tersebut. Dengan menggunakan kriteria entrepreneurship maka kita dapat membagi UKM dalam empat bagian, yakni :  
(1) Livelihood Activities : UKM yang masuk kategori ini pada umumnya bertujuan mencari kesempatan kerja untuk mencari nafkah. Para pelaku dikelompok ini tidak memiliki jiwa entrepreneurship. Kelompok ini disebut sebagai sektor informal. Di Indonesia jumlah UKM kategori ini adalah yang terbesar. 
(2) Micro enterprise : UKM ini lebih bersifat “artisan” (pengrajin) dan tidak bersifat entrepreneurship (kewiraswastaan). Jumlah UKM ini di Indonesia juga relatif besar. 
(3) Small Dynamic Enterprises : UKM ini yang sering memiliki jiwa  entrepreneurship. Banyak pengusaha skala menengah dan besar yang tadinya berasal dari  kategori  ini. Kalau dibina dengan baik maka sebagian dari UKM kategori ini akan masuk ke kategori empat. Jumlah kelompok UKM ini jauh lebih kecil dari jumlah UKM yang masuk kategori satu  dan dua. Kelompok UKM ini sudah bisa menerima pekerjaan sub-kontrak dan ekspor.
 (4) Fast Moving Enterprises : ini adalah UKM tulen yang memilki jiwa entrepreneurship yang sejati. Dari kelompok ini kemudian akan muncul usaha skala menengah dan besar. Kelompok ini jumlahnya juga lebih sedikit dari UKM kategori satu dan dua.
Dilihat dari pembinaan yang efektif maka sebaiknya pemerintah memusatkan perhatiannya pada UKM kategori tiga dan empat. Kelompok ini juga dapat menyerap materi pelatihan. Tujuan pembinaan terhadap UKM kategori tiga dan empat adalah untuk mengembangkan mereka menjadi usaha sekala menengah. Secara konseptual penulis menganggap ada dua faktor kunci yang bersifat internal yang  harus diperhatikan dalam proses pembinaan UKM. Pertama, sumber daya manusia (SDM), kemampuan untuk meningkatkan kualitas SDM baik atas upaya sendiri atau ajakan pihak luar. Selain itu dalam SDM juga penting untuk memperhatikan etos kerja dan mempertajam naluri bisnis. Kedua, manajemen, pengertian manajemen dalam praktek bisnis meliputi tiga aspek yakni berpikir, bertindak, dan pengawasan.
Sumber;

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar